“Permisi ya bu, saya minta waktu ibu beberapa menit kedepan,” demikian saya membuka pembicaraan di depan teras rumah seorang ibu separuh baya sementara tangannya masih memegang kain lap tampaknya barusan dari dapur.
“Maaf bu jika saya mengganggu waktu ibu dipagi hari ini,” karena mimik wajahnya belum benar-benar menerima kedatangan saya.
“Saya kader PKS bu, hari ini kami sedang program turun sosialisasi bu,” saya perkenalkan diri kepadanya.
“Iya, nda apa-apa kebetulan sudah selesai masak,” jawabnya datar, sambil menyipitkan matanya melihat saya, mungkin mata beliau rada rabun, namun setidaknya sambutan itu sudah ada dan bagi kader PKS pantang menyerah dalam Direct Selling.
“Ibu tahu bulan April ini kita ada pemilihan umum ?” tanyaku seperti petugas sensus sambil saya mengambil contoh kertas suara dari KPU.
“Belum tahu, oo kita mau pemilu lagi kah?” jawabnya dengan nada khas suku sama dengan saya.
Akhirnya saya mencoba memakai bahasa daerah sedikit kepadanya dan Alhamdulillah responnya jadi lebih baik, setidaknya pembicaraan saya kedepan bisa lebih mudah.
“Bu, nanti kertas suara kita seperti ini dan sekarang sudah tidak selebar tahun 2009, karena partainya sudah tinggal sedikit jumlah partainya bu,” sambil saya sodorkan contoh surat suara tersebut di hadapannya. Dia hanya serius melihat kertas suara tersebut dan tetap sambil mengkernyitkan matanya agar bisa melihat jelas.
Belum lagi sempat saya jelaskan kepadanya, dia kemudian mengatakan membuat saya dan kang Yudi yang menemaniku menjadi kikuk, “Kalau saya itu selalu memilih nak, tidak pernah saya tidak memilih dan saya selalu memilih yang nomor-nomor kecil saja”, kini.sang ibu itu yang mengambil alih pembicaraan dan kini kami di panggil nak…, he..he tampaknya si ibu ini masih teringat pemilu dengan 3 parpol saja.
“Saya juga nak, tidak pernah dipengaruhi siapa-siapa, pokoknya saya memilih yang nomor kecil nak!”, tambahnya menjelaskan lagi. Saya sudah mulai berpikir mengclossing ibu ini, soalnya dia cuma mau memilih nomor yang kecil.
“Tabe’ (permisi -bahasa indonesianya-) bu, kalau begitu beginimi saja ibu, karena ibu sudah terbiasa pilih nomor kecil, nah kebetulan sekali bu PKS di nomor kecil, nomor 3 ini gambarnya,” sambil saya tunjukkan di kertas suara. Kini dia lebih memperhatikan, “Jadi bu, ajanaa muluppuaiki di nomoro 3!” artinya kalau begitu jangan lupa nanti nomor 3, untuk meyakinkannya dengan bahasa daerah seperti sabda nabi saw : berbahasalah dengan manusia dengan bahasanya.
Sang ibu kemudian bilang, “PKS nomor kecil di?” (kata ‘di’ khas bahasa sini ‘apakah PKS nomor kecil?’) lantas kujawab “3 itu nomor kecil bu!”.
Dia kemudian menganggukan kepalanya dan setelah itu kang Yudi serahkan kalender kepadanya, kemudian kami berdua pamit untuk jalan lagi, dengan senyum dan salam kepadanya.
Selang beberapa langkah beliau melepas kami dengan ucapan, “Salamaki’ nak”, artinya selamat untukmu nak.
Setelah agak jauh, saya berseloroh ke akh Yudi, “Kang mungkin inilah yang di bilang bertemunya kebiasaan dengan takdir, bahwa kebiasaan sang ibu coblos nomor kecil dengan takdir PKS di nomer yang kecil. Ayo kita jalan lagi, mungkin disana masih banyak seperti ibu Hasnah..”
*by Syukri Wahid
~serba serbi DS di gunung samarinda~
www.pksbalikpapn.org
No comments:
Post a Comment